Rabu, Mei 27, 2009

Mimpi itu indah.

"Selamat ulang tahun, Bu!" ucap Andi sambil mencium tangan Ibunya dengan takzim.
"Semoga ibu selalu sehat, dimudahkan segala urusannya, selalu dalam lindungan Allah, semoga Ibu dapat melihat kesuksesan kami kelak, dan lain-lain dah Bu', tentunya Andi selalu mendo'akan ibu yang baik-baik deh" lanjut Andi.
"Amiin, Terima kasih ya, le" balas Bu Aminah. "Semoga apa yang kau do'akan buat ibu dikabulkan oleh yang maha kuasa"
"Amiiin"

Mengingat hal itu, mata Andi selalu berkaca. Moment itu masih membekas di kalbunya. Ia belum sempat membahagiakan ibu yang ia cintai. Namun tak ada yang kuasa. Ibunya harus pergi disaat ia masih butuh kasih sayang seorang ibu.

Hari-hari Andi lewati tanpa gairah. Ia merasa bersalah. Ia kecewa atas keputusannya untuk memberikan kado spesial buat sang ibu. Padahal tabungannya sudah cukup untuk membelikan kado. Begitulah hari-hari yang dilalui Andi.

Pada suatu malam, ruh sang ibu yang atas seizin Allah azza wajallah hadir dalam tidurnya.
"Kowe ora oleh koyo ngono le" nasehat Bu Aminah. "Ini semua sudah ketentuan sang maha kuasa. Kau harus semangat. Bahagiakan Bapakmu. Kau lah harapan kami satu-satunya. Ibu akan sedih disini jika kau terus begini, le." lanjutnya dalam nasehat.

Tapi banyangan Bu Aminah pergi tak tahu kemana ketika handphone di atas meja kecil di sebelah spring bad berdering.

"astagfirullah al 'adzim" setengah sadar diucapkan Andi. Ia masih tidak percaya ibu yang telah pergi ke sisi Allah swt datang menyapanya. Memberi semangat. Namun dibalik itu Andi merasa sangat senang karena dapat bertemu dengan sang ibu yang di cintainya walaupun hanya beberapa menit. Andi terbangun untuk melihatnya. Ternyata cuma misscall.

Merdu lantunan kumandang adzan subuh membangunkanku dari lelapnya tidur. Semangat baru muncul setelah berjumpa dengan ibu tercinta. Dalam peraduan do'a Andi meminta pada-Nya untuk memberikan yang terbaik bagi wanita yang telah melahirkannya, Bu Aminah. Tak lupa juga ia do'kan ayahnya yang kini sendiri membanting tulang demi kebahagiaannya.

Kini hari-hari Andi beda dengan hari-hari kemarin. Ia lebih bersemangat. Lebih rajin. Semakin taat kepada ayah dan selalu mengerjakan kewajibannya, kewajiban untuk dunia dan akhirat.


By : Pebri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar