Pagi yang cerah. Semua yang ada di alam semesta ini melakukan aktifitasnya. Tak terkecuali aku. Seperti biasa aku pun melakukan aktifitasku. Berangkat ke sebuah Universitas. Universitas Harapan Jaya yang berdiri kokoh di Kota Impian di daerah Pulau Kapuk. Sebuah Universitas kecil yang mulai berkembang, tumbuh seiring waktu. Dengan semangat. Aku berangkat menuju peraduan dimana aku akan mendapatkan apa yang kucari. Ilmu. Itulah nama yang insya allah akan membantuku di dunia kelak. Tak hanya itu, aku mendapatkan sahabat baru yang selayaknya saudara.
Dalam perjalanan aku bertemu dengan seseorang yang tak asing lagi. Dia salah satu teman sekolahku di SLTA dan kini satu kampus namun berlainan Fakultas. Meki namanya. Meskipun telah berbeda fakultas kami tetap bersahabat baik.
"Di, mau berangkat ke kampus"
"Ya Mek"
"Wah kebetulan. Mari naik, kita ke kampus bareng"
"Key. Thanks ya!."
Dengan sekejap kami tiba di kampus. Bagaimana tidak, kecepatan sepeda motor yang ia kendarai mencapai 80 km/jam padahal jarak kampus yang dituju tak begitu jauh. Mek memarkirkan mendaraannya di parkir.
"Ya Allah Mek, kenceng bener motormu. Napa gak jadi pembalap aja kamu?!."
"Sebenernya mau sech,, Tapi aku masih sayang"
"sayang sama apa, pacar?!."
"Gak lah,, aku sayang ama nyawa ku. Akukan belom balas jasa ortuku"
"Oh gitu toh!!. Baguslah kalo gitu".
"ya do'akan saja biar keinginan ku tercapai"
"Amiin. Oh, ya Mek aku duluan ya?!."
"Napa?!."
"Biasa. Bentar lagi kelas mau dimulai. Thanks ya!!."
"Sama-sama"
Pukul 08.00 perkuliahan dimulai. Untunglah ada Meki yang mau mengajakku dengan motor kilatnya kalo tidak pasti terlambat aku. Saat hendak menuju kelas, aku bertemu dengan Wike. Teman sekelas yang pintar, energik, cekatan, dan supel. Hatiku berdetak kencang bukan main. Memang diriku kagum padanya. Baberapa sahabatku pun tau. Walau hanya beberapa orang karena hanya pada sahabat dekat aku bercerita. Entah apa yang membuat ku kagum padanya. Wajahnya tak begitu cantik namun tak jenuh dipandang. Tak begitu tinggi namun tak begitu pendek. Apakah kagumku ini merupakan satu tanda bahwa ku suka padanya?. Ah, Entahlah. Degub jantung yang kencang membuat bibirku terkunci. Tak sepatah kata yang keluar dariku hingga akhirnya dia yang menyapa aku.
Selama kelas berlangsung, aku teringat kejadian tadi. Keramahannya membuat kagumku bertambah. Selama perkulihan berlangsung konsentrasiku buyar. 3 jam diruangan serasa satu hari. Tak biasanya aku merasa selama itu. Waktu yang di nanti akhirnya tiba. Istirahat. Seperti biasa, aku, Ahmad, Puri, Okta, Ria, dan Ulid pergi ke kantin di belakang kampus. Aku menceritakan kejadian pagi tadi.
"Serius itu Di?!.", tanya Okta
"Ya"
"Wah sampai segitunya, sepertinya harus kita bantu nich!!", sahut Puri.
Ria, Ulid, dan Ahmad hanya menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju.
"Ah,,, biar aku saja yang menyelesaikanya", kata ku membela diri.
"Bener nich?!.", Jawab Ria
"Bener"
"Kalau kamu ada masalah dan butuh bantuan kami selalu ada", Cetus Ulid.
"Thanx ya semua"
Saat dikantin nafsu makanku hilang tapi perasaanku cukup lega, apa yang ada di hatiku telah tercurahkan walau sekedar bercerita pada sahabat karib. Sesampainya di rumah, hal itu masih terbayang hingga membuat selera makanku entah pergi kemana. Namun rasa laparku kali ini tak terbendung.
Hari terus berganti tapi ku tetap tak kuasa mengungkapkannya. Takut. Malu. Mungkin itu alasan mengapa aku mengurungkannya. Aku coba melupakan itu semua. Dengan menyibukkan diri akhirnya ku bisa. Disaat aku mulai melupakannya, sahabat yang pro terhadap perasaanku dulu kini mengingatkan kembali. Aku pun tak kuasa membendungnya. Namun tak seorang pun dari mereka tau. Diriku ibarat kumbang yang diberi bunga favorit. Ku mulai menyusun strategi kapan ku harus mengambil bunga itu. Layaknya gula yang terabaikan semut pun langsung berdatangan. Niatku pun terbaca. Tanpa ku pinta, mereka langsung menyusun rencana. Sayang rencana mereka tak tembus olehku. Mungkin mereka melapisinya dengan baja berlapis-lapis.
Tepat di hari ulang tahun ku, aku mendapatkan kado special yang tak kuduga. Sebuah rencana yang disepakati orang tua ku dan orang tua wike yang ku tak tahu kapan itu terjadi. Memang orang tua kami sudah mengenal sejak lama. Sebuah rencana yang coba ku cari tau namun tak kunjung berhasil. Mereka mengajakku ke suatu tempat. Rumah Wike. Layaknya pemeran utama yang kemunculannya di suatu film, diriku disambut dengan bahagia, semangat, dan senyum sumringah. Aku balas senyum meraka. Niatku untuk duduk bersama yang laen terhalangkan. Ahmad mengajakku menghampiri sebuah meja yang sangat rendah dan masih kosong. Tanpa curiga aku pun duduk di dekat meja itu bersama amat sedangkan Okta, Puri, Ria, dan Ulid duduk dalam kerumunan orang.
Selang beberapa menit, tak ku sangka Wike keluar dari kamarnya. Dia menuju ke arahku. Seperti pembantu yang patuh terhadap majikan, Ahmad langsung mundur dari tempat duduknya. Dan Wike duduk disampingku. Aku tersentak kaget. Jantungku berdegub tak beraturan. Ku tarik nafas panjang dan ku hembuskan perlahan. Perlahan tapi pasti rasa tegang ku berkurang hingga akhirnya hilang. Dengan santai Wike menyapaku. Setelah Wike menyapaku, Orang tua Wike dan orang tua ku keluar dari ruangan yang sama bersama satu orang yang tak ku kenal. Mereka duduk melingkari kami.
"Anakku, apakah kau menyukai Wike", tanya Ayah Wike.
"Ya Paman"
"Kalau begitu maukah kau menikah dengannya?", lanjutnya.
"Maaf paman, Lebih baik paman tanya dulu pada Wike apakah dia mau menikah denganku" "Wike dan kami tinggal menunggu jawabanmu Ananda. Bagaimana apakah kau mau?"
"Kalau memang begitu baiklah paman".
Tanya jawab akhirnya selesai. Akad pun dimulai. Orang tua, sahabat karibku dan para kerabat yang datang tersenyum sumringah. Mereka bahagia. Tak dapat ku banyangkan. Tanpa susah payah ku dekati bungaku. Mereka memberikan bunga yang ku inginkan dan bungaku pun menanti sang kumbang pujaan. Perasaanku senang tak hingga. Semua terasa mimpi, mimpi yang indah namun nyata.